Rabu, 27 Januari 2016

Contoh Cerpen Berjudul "Gunung Singkong dan Sahabat Setiaku"

Nama Anggota :
v  Pandu Prasetya           (14)
v  Ragil Triatmojo           (16)
v  Rahmawati Yuniarko  (17)
v  Salma Nur Arrifa        (25)

Cerpen Hasil Diskusi :

Gunung Singkong dan Sahabat Setiaku


Masih berbau tanah garapan kaki kecil itu. Seorang gadis yang membantu orang tua di tanah garapan yang dipinjamkan oleh kepala dusun. Tentu tak seberapa besar buah hasil dari tanah garapan itu, yang hanya tertancap kayu singkong. Dewi Cahya namanya, anak sulung dari pasangan petani singkong.

            Dengan segala keterbatasan dia berusaha untuk menyambung sekolah, bagaimana tidak untuk keperluan sehari-hari saja sering tak cukup. Walapun begitu dia masih dapat tersenyum, tersenyum karena sahabatnya saat senja telah tiba. Pada waktu itu juga ayahanda datang dengan salam istimewanya dengan pundak memikul singkong dari kebun. Setiap hari ayahanda membawa singkong sepulang dari kebun, hingga menggunung benar tumpukan singkong di samping rumah.

            Dewi tak tahu mau diapakan tumpukan singkong yang menggunung itu. Walaupun hampir setiap hari ibunda Dewi merebus singkong tetapi tak kunjung berkurang juga singkong itu yang seakan singkong itu dapat menggandakan diri. Dalam himpitan ekonomi yang sulit, Dewi berfikir untuk memanfaakan singkong itu. Dia pun bercerita kepada Ani. Maka dihasilkanlah sebuah ide dari pembicaraan mereka untuk membuat keripik singkong.

            Hari sudah berganti, pagi sekali saat dedaunan masih meneteskan embunnya Dewi sudah melangkahkan kaki untuk merajut ilmu di sekolah. Dengan bekal do’a dia berangkat menembus remangnya jalan yang diselimuti putihnya kabut. Tak lupa Dewi menjemput Ani, sahabatnya. Saat perjalanan merka melanjutkan perbincangan mereka kemarin sore. Mereka berencana untuk mencari buku pengolahan singkong di perpustakan sekolah.

“Ani, bagaimana jika sepulang sekolah kita mampir ke perpustaan sebentar?”, tanya Dewi kepada sahabatnya.
“Hmm... baiklah. Dengan senang hati aku akan menemanimu. Namun apakah kamu tidak membantu ayahmu berkebun seperti biasanya?”
“Sebelum berangkat sekolah tadi aku sudah meminta izin kepada ayah kalau hari ini aku akan pulang lebih lambat dan tidak dapat membantunya.”
“Oke! Baiklah.”

            Jam pulang sekolah puntiba meraka langsung bergegas menuju perpustakaan dan mencari buku pengolahan singkong. Setelah mereka mendapatkan buku yang diinginkan kemudian mereka menuju rumah Dewi. Tanpa melepas baju putih abu-abunya mereka langsung mengabil peralatan. Dengan panduan buku itu mereka mulai mengolah singkong. Walaupun peralatan yang seadanya mereka sangat bersemangat untuk membuat keripik singkong. Akhirnya merekapun menyelesaikannya. Tepat saat magrib telah berkumandang. Setelah beribadah solat Magrib, mereka berbincang-bincang mengenai rencana untuk menjual kripik singkong yang telah mereka buat.

“Alhamdulillah usaha kita membuat kripik sigkong membuahkan hasil yang cukup baik. Ngomong-ngomong kapan kita akan menjualnya?”. Ucap Ani
“Ohya, aku lupa belum memikirkannya. Menurutmu bagaimana An?”.
“Bagaimana jika besok pagi? Bukankah besok adalalah hari libur sekolah? Jadi kita bisa berjualan dari pagi hari.” Saran Ani
“Ide cemerlang! Oke aku setuju denganmu!”

            Hari yang ditunggupun telah tiba. Kebetulan sekali angka merah kalender ini bertepatan dengan rencana mereka untuk berjualan sehingga mereka dapat berjualan sejak pagi. Namun Dewi masih terbaring malas di kamarnya dan dia tersentak teringat rencananya untuk berjualan. Dengan sigap dia langsung memenuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tanpa peduli akan dinginnya air dipagi hari itu yang mungkin akan membuat beku tubuhnya. Sesuai membersihkan dirinya, Ia lagsung bergegas menghampiri Ani untuk berjualan bersama.

            Berputar kampung mereka berjualan menawarkan keripik hasil tangan mereka. Tetapi senjang antara harapan dan kenyataan, ternyata banyak celaan terhadap keripik mereka. Sekejap harapan yang tinggi sekarang berubah menjadi palung yang gelap nan dalam. Putus asa menyelimuti hati Dewi untuk terus berusaha memenuhi kebutuhannya. Namun Ani memberikan semangat untuk terus berusaha.

“Ternyata semua tak seindah yang aku kira.” Kata Dewi yang mulai lelah.
“Ayolah! Kamu jangan patah semangat seperti itu. Semua pasti ada jalan terbaik.” Sahut Ani.
“Nggak. Semua sia-sia, mana ada orang yang mau membeli kripik singkong begini. Bagi mereka ini makanan yang jadul. Mana mau mereka memakannya? Yang ada jika mereka memakannya mereka akan di bilang Ndeso.”
“semua usaha tidak ada yang sia-sia, Dew. Mungkin kita perlu membuat variasi pada makanan yang kita jual agar banyak yang suka. Setuju gak?”
“apa kamu yakin?”
“kenapa tidak? Mencoba itu lebih baik daripada tidak mencoba sama-sekali!”
“Iya, kamu benar! Lalu kapan kita akan mencobanya?”
“bagaimana kalau minggu depan?”
“Siap Boss!”

Setalah lelah berjualan mereka langsung bergegas pulang. Keesokan harinya, mereka bertemu di sekolah dan terus melanjutkan rencana mereka untuk membuat suatu hal yang dapat laris di pasaran. Berbagai sumber mengenai pengolahan singkong telah mereka baca. Hingga pada akhirnya mereka menemukan cara membuat singkong aneka rasa. Mereka lalu mencoba membuatnya kemudian menjualnya. Ternyata produk yang mereka hasilkan kini cukup laris di pasaran bahkan permintaannya cukup banyak sehingga mereka kewalahan membuatnya.

“Alhamdulillah ya Dew, Inovasi kripik Singkong kita sukses besar!” Seru Ani saat sedang membuat kripik singkong pesanan di rumah Dewi.
“Iya, An. Ini semua berkatmu yang selalu menyemangatiku. Terima kasih banyak ya!”
“Sama-sama Dew, Kita menghasilkan uang yang cukup banyak lho! Jadi kita dapat membayar uang sekolahmu dan kamu tidak akan bersedih lagi seperti kemarin”
“Bagaimana untuk bagianmu? Kamu kan selalu membantuku memproduksi kripik singkong ini. Tidak adil jika aku tidak memberi bagian untukmu juga”
“Tidak usah, untuk membayar uang sekolahmu saja Dew. Aku tidak mau kamu putus sekolah. Lagipula aku akan sedih jika berpisah denganmu.”
“Sungguh? Kau memang malaikatku An!”
“Ah kamu bisa saja.”

Dengan hasil penjualan yang memuaskan, mereka terus mengembangkan usahanya. Mereka meneruskannya hingga setelah ia lulus SMA , kini usaha mereka sudah cukup sukses bahkan memasuki pasar internasional. Melalui usaha yang di jalaninya Hidup Dewi menjadi lebih terjamin dan persahabatan mereka tak pernah terputus.

------------------------------------------------Tamat-----------------------------------------------


Tidak ada komentar:

Posting Komentar